Surat dari Tingang

Pembaca, zaman melaju cepat dan kini sesungguhnya mempunyai tugas menjaga sejarah, agar tak terkikis oleh zaman. Apa itu? Kebudayaan, jejak nenek moyang.Kita tak ingin kebudayaan Dayak hilang bersama zaman. Tidak, kita tidak sedang mengagung-agungkan sebuah kebudayaan. Tapi, yang kita kerjakan adalah sekadar menjaga dan melestarikan karena ia bagian dari kehidupan kita, kehidupan nenek moyang kita.

Siapa bertanggung jawab untuk ini semua: ya kita sendiri. Tidak mesti orang Dayak, tapi siapa pun yang merasa mencintai Dayak. Dan setiapn orang mempunyai cara sendiri untuk mencintainya. Rumah Kahayan, komunitas Kahayan ini, hanya satu contohnya.

Radikalisme Sektarian

Oleh: Seno Gumira Ajidarma,
Wartawan

Pada hari ini, di negeri ini, dalam konteks masa kini, di manakah tempatnya ideologi dalam pengertian sempit yang dapat dirumuskan sebagai radikalisme sektarian?

Radikalisme tercatat sebagai kecenderungan untuk mendorong pandangan dan tindakan politik menuju titik ekstrem. Asosiasi radikalisme adalah selalu ketidakpuasan terhadap status quo dan suatu seruan bagi perubahan sosial-politik. Namun makna kata radikalisme dalam perbedaan waktu dan tempat telah selalu berubah, mulai dari yang moderat sampai yang pada umumnya kekiri-kirian, meski tak jarang sangat kanan seperti fasisme dan naziisme. Istilah ini juga digunakan secara luas sebagai disposisi untuk menantang pandangan mapan dalam setiap usaha keras manusia, termasuk dalam kesenian dan kesarjanaan (Labedz dalam Bullock & Trombley, 1999: 722-3).

Secara historis, setidaknya sejak kata ini terhubungkan dengan konteks politik Inggris pada 1689 dalam perkara Penyelesaian Konstitusional (Constitutional Settlement), tujuan kaum Radikal adalah menegaskan kembali keyakinan atas “semangat sejati”, dan menemukan dasar bagi kemandirian politik wakil-wakil rakyat. Dalam radikalisme selalu terkandung pemikiran yang menentang stratifikasi khalayak yang telah dianggap baku.

Mengacu kepada konsep semacam itu, tampaknya konotasi radikalisme baik-baik saja alias positif dan produktif sebagai ideologi kritis. Radikalisme dalam konteks Eropa abad ke-18, misalnya, Rousseau termasuk yang menegaskan betapa hak politik itu melekat bersama kelahiran manusia dan bahwa hak politik seseorang itu tak dapat ditarik kembali (Wangerman dalam Riff, 1995: 252-3).

Nah, jadi radikalisme macam apakah yang-layak-diberi konotasi negatif? Bagaimana dengan radikalisme sektarian? Adapun sektarian adalah kata sifat dari istilah sekte, yang digunakan untuk menjelaskan kelompok sosial eksklusif, yang bergerak di sekitar seorang pemimpin agama atau politik. Batas-batas biasanya jelas dan memisahkan mereka yang anggota atau yang bukan anggota. Keanggotaan adalah sukarela, tapi biasanya pula melibatkan komitmen total terhadap sektenya. Jika mengacu ke pengembangan istilah ini oleh Troeltsch (1865-1923) dalam kajiannya tentang kekristenan, sekte menghadirkan kembali ketersesatan, oposisi, dan penolakan dalam kontras terhadap otoritas yang resmi (Grimshaw dalam Bullock & Trombley, 1999: 778).

Menggabungkan pemikiran Rousseau yang positif dan Troeltsch yang negatif, dalam ketersesatannya kelompok radikal sektarian ini memiliki hak hidup, sehingga tak bisa “dibubarkan” karena keterbentukannya bukanlah ditentukan oleh pendaftaran, melainkan oleh kebutuhan bersama dalam ekspresi politik. Dalam hal ini, segenap gerakan maupun manuvernya yang terhubungkan dengan pemahaman politik identitas dapatlah diperiksa, yakni apa sajakah yang dilakukannya ketika menunjukkan kepada dunia siapakah diri mereka itu sebenarnya.

Dengan pengamatan, pemeriksaan, pembongkaran, pengkajian, dan pengungkapan kritis atas politik maupun proyek identitasnya, berlakulah prosedur yang memberi peluang berkeadilan: apakah dengan segala hak hidupnya itu, suatu kelompok radikal sektarian layak mendapat tempat untuk hidup, atau sebaiknya membubarkan diri sahaja.

Perilaku yang paling perlu diperiksa tentu perilakunya yang paling ekstrem: apakah radikalismenya merupakan proyek antikemapanan yang produktif, karena lantas mengembangkan lingkungan sosial-politiknya; ataukah merupakan proyek antikemapanan yang bukan hanya nonproduktif, tapi juga menjadi sumber kanker sosial-politik yang sangat potensial dalam penggerogotan hidup kebangsaan.

Adapun jika barang jualannya itu, antara lain, adalah rasisme, baiklah ditengok pula apakah rasisme itu: rasisme adalah suatu kebijakan terlembagakan, atas prasangka dan diskriminasi yang terarah kepada minoritas, melalui karakterisasi warna dan berbagai bentuk yang semestinyalah berbeda dengan kelompok-kelompok yang lebih berkuasa dan mapan. Apa yang disebut prasangka itu memburu sasaran yang bervariasi atas dasar stereotip sahaja dalam dalih prasangka atas ras, kelompok etnik, gender, dan juga agama. Patut disesalkan, sepanjang sejarah kehidupan manusia, perlawanan terhadap ideologi rasis hanya mengalami sangat sedikit kemajuan (Saunders dalam O’Sullivan et.al, 1994: 241, 256).

Sampai berapa lama kebodohan itu dibiarkan tetap berkeliaran? Di Indonesia, prasangka sudah lebih dari cukup dalam menimbulkan korban, mulai dari diskriminasi sosial-politik sampai pemerkosaan dan pembunuhan massal. Membiarkan kemungkinan itu hidup dan berkembang adalah langkah pertama menuju kehancuran. Itulah sebabnya, segenap penanda dan pembermaknaan radikalisme sektarian ini harus diungkapkan, demi tumbuhnya kesadaran generasi masa depan. *

Astrologi, Sastra, dan Film

Intan Ophelia Binti :

Keterlibatan mendalam Intan Ophelia Binti (45) dengan dunia astrologi sebenarnya belum terjadi terlalu lama, yakni pada 2002, saat ia pindah ke Denmark, negeri kelahiran suaminya. “Sebelum itu, saya tahu astrologi, ya, cuma ramalan zodiak di majalah-majalah itu saja. Padahal, itu ternyata baru kulitnya saja,” kata Intan.

Saat tiba di Denmark, Intan dalam keadaan sakit kanker leher rahim stadium awal. Untuk mengurangi rasa sakitnya, ia mengikuti kelas yoga di bawah bimbingan Andrias Dalman, seorang pakar teknologi informasi yang menjadi astrolog dan guru yoga. “Sama dia, saya justru diramal akan jadi astrolog yang andal. Sejak itulah saya belajar serius ilmu astrologi,” kenang Intan, yang sudah menjelajah 25 negara selama 15 tahun pernikahannya dengan Jens Leif Petersen, seorang ahli ilmu tanah yang bekerja untuk Danida, lembaga bantuan luar negeri Denmark.

Intan menyebut ayah dan suaminya, yang meninggal pada 2006, sebagai dua orang yang paling berjasa mengenalkan dia pada dunia melalui buku, film, dan perjalanan keliling dunia.

“Sejak kecil, ayah saya sudah memberi anak-anaknya berbagai bacaan bermutu dan mengajak menonton film. Saat saya berpindah-pindah mengikuti suami, minat ini makin terpuaskan. Saya sempat mengunjungi tempat-tempat kelahiran para penulis besar dan menonton film-film Eropa yang bagus,” kata Intan, yang terkesan dengan tanah kelahiran Rabindranath Tagore di Santiniketan, Calcutta, India.
Membuat film

Kegemaran Intan membaca buku sastra dan menonton film, dipadu dengan pengalamannya mendengarkan curahan hati para kliennya dari berbagai latar belakang, membuat ia bertemu dengan obsesi baru, yakni membuat film sendiri.

“Saya teringat kisah (sutradara) Pedro Almodovar yang dulunya hanya pegawai perusahaan telepon dan bertemu dengan pelanggan berbeda setiap harinya. Pengalaman bertemu mereka itu menjadi inspirasi yang dia tuangkan dalam film-filmnya. Saya juga ingin seperti itu,” ujar Intan, yang pernah tampil memberikan konsultasi astrologi di beberapa acara dialog di stasiun televisi nasional.

Intan pun mulai menulis skenario film berjudul (Cara) Mencari Jodoh dan mulai mencari sutradara untuk membesut filmnya tersebut. Pilihan jatuh pada Aditya Gumay, sutradara film Emak Ingin Naik Haji (2009). “Tetapi, Aditya minta waktu sampai tahun depan untuk menggarap film itu karena ia sedang menggarap film anak-anak. Akhirnya saya justru terlibat dalam produksi filmnya yang sekarang,” ungkap perempuan kelahiran Banjarmasin, 1 Januari 1965, ini.

Intan saat ini menjadi produser eksekutif film drama musikal anak Rumah Tanpa Jendela yang disutradarai Aditya. Semua penjualan tiket film itu menurut rencana akan disumbangkan kepada anak-anak jalanan. “Bagi saya, membuat film lebih untuk kepuasan batin, bukan untuk mencari uang. Saya sudah memiliki sumber income lain dari konsultasi astrologi ataupun dari peninggalan suami saya. Secara finansial, saya sudah sangat terjamin,” ujarnya.((Kompas, Minggu, 4 Juli 2010)

Singgahlah ke Danau Tahai

Terletak sekitar 30 kilometer dari Palangkaraya, Danau Tahai merupakan danau alam. Danau ini terbentuk karena adanya perubahan aliran sungai Kahayan.

Keunikan Danau Tahai adalah pada airnya. Air danau ini berwarna merah. Para pakar biologi menyatakan warna merah terjadi karena dasar danau itu dipenuhi oleh akar-akar gambut. Di pinggir danau ini terdapat sejumlah rumah khas suku Dayak, yang berdiri di atas tonggak kayu yang disebut lanting.

Tak sulit untuk menjangkau danau itu. Danau ini terletak di pinggir jalan raya jurusan Palangkaraya—Sampit. Jika pun tak membawa mobil pribadi, mereka yang akan ke danau ini bisa memakai angkutan kota/kendaraan umum yang tersedia 24 jam. Kendaraan umum jurusan Palangkaraya-Sampit. Pengunjung turun di Desa Tahai dan kemudian, dengan berjalan kaki, bisa sampai ke danau ini.

Dinas Pariwisata Kalteng berupaya menjadi danau ini sebagai wisata keluarga seperti halnya telaga Sarangan di Jawa Timur (danau yang terletak di Kabupaten Magetan dekat Kota Madiun). Sejumlah sarana wisata dibangun untuk menarik pengunjung, seperti misalnya, sepeda air (sepeda angsa), perahu dayung dam perahu motor, rumah makan, dan juga penginapan.

 

KPK Soroti Tambang Batu Bara

Komisi Pemberantasan Korupsi menemukan sejumlah persoalan pengelolaan mineral dan batu bara oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dan Pemerintah Kota/Kabupaten Kalten.

Permasalahan tersebut menyangkut tentang jumlah ijin usaha (IUP) pertambangan yang berbeda antara pemerintah pusat dan kabupaten, perusahaan yang belum memenuhi kewajibannya, adanya tumpang tindih lahan hingga belum adanya laporan dari Kabupatan menyangkut data lahan kepada Pemerintah Pusat.

Dari 1 April hingga 2 April lalu, KPK melakukan supervisi dan rapat koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Kalteng berkaitan dengan masalah pertambangan. Acara ini merupakan kelanjutan dari rapat 12 gubernur provinsi yang memiliki kekayaan sumber daya alam pada 7 Februari lalu di kantor KPK, Jakarta.

Menurut Ketua Tim Sumber Daya Alam Direktorat Litbang Komisi Pemberantasan Korupsi Dian Patria, ada banyak masalah dalam pengelolaan pertambangan yang mesti dibenahi agar pemanfaatan tambang dapat optimal dan sesuai aturan. Pihaknya, kata Dian, mendorong terciptanya tata kelola pertambangan mineral dan pertambangan yang efektif.

KPK memaparkan sejumlah permasalahan, antara lain, perbedaan data ijin usaha pertambangan antara data dari Ditjen Minerba dan data dari Pemerintah Daerah.

Data Ditjen Minerba menunjukkan adanya 866 IUP di Kalimantan Tengah. Tapi dari data pemerintah daerah menunjukkan adanya 983 IUP. “Terjadi selisih 117 IUP yang perlu diverifikasi lagi keberadaannya,” kata Dian.

Kabupaten Pulang Pisau, misalnya, berdasarkan data Ditjen Minerba terdapat 17 IUP, tapi data pemerintah daerah menunjukkan adanya 71 IUP. Di Kabupaten Barito Utara data Ditjen Minerba 194 IUP, sedang data pemerintah daerah ada 239 IUP.

Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kalteng, Syahril Tarigan menyatakan, selisih jumlah IUP antara Ditjen Minerba dan pemerintah daerah terjadi karena saat koordinasi pengumpulan data memang ada ketidakseragaman. Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Barito Utara Timur, Mulyadi mengakui adanya perbedaan data IUP antara Ditjen Minerba dan pemerintah daerah (Plngnews/Kompas).