Rumah Lanting, Rumah di Atas Sungai Kahayan

RUMAH Lanting adalah rumah rakit tradisional dengan pondasi rakit mengapung terdiri dari susunan tiga buah batang pohon kayu yang besar. Rumah Lanting selalu oleng dimainkan gelombang dari kapal yang hilir mudik di sungai. Rumah Lanting banyak terdapat di sepanjang sungai-sungai di Kalimantan.

Di Kalimantan Tengah, rumah lanting, antara lain,  masih bisa ditemui di Sungai Kahayan. Rumah lanting juga menjadi salah satu setting novel “Rumah di Atas Kahayan” karya Lestantya R Baskoro., sebuah novel yang bercerita tentang kota Palangkaraya. Novel Rumah di Atas Kahayan yang asyik

Di Palangkaraya rumah lanting telah menjadi salah satu obyek wisata.

Ciri khas rumah lanting, bagian dasarnya menggunakan kayu gelondongan sehingga bisa terapung. Rumah lanting merupakan bagian adaptasi manusia dengan alam sekitarnya.

Perbaikan rumah lanting tidak hanya dinding atau atap kadang juga gelondongan kayu di bawahnya yang lapuk karena terendam.

Agar tidak hanyut, rumah lanting kadang diikat dengan tali yang disambungkan atau ditambatkan ke darat. Cerita bahwa rumah lanting hanyut karena hujan deras dan air sungai meluap bukan isapan jempol.

Rumah lanting tidak hanya untuk tempat tinggal, ia bisa juga berfungsi sebagai tempat berdagang, termasuk menjual bahan bakar minyak.

Pada umumnya ukuran rumah lanting tidak besar, sekitar 20 sampai 40 meter persegi, praktis tak banyak kamar di dalamnya.

Rumah lanting adalah bagian budaya tradisional suku Dayak di Kalimantan Tengah. Di Kalsel pun rumah di atas sungai juga memiliki nama sama, rumah lanting dan dianggap sebagai satu dari sebelas rumah adat suku Banjar.[]

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *